Saya dan ISSDP

Saya belum sempat cerita bagaimana akhirnya saya bekerja di Pemprov DKI Jakarta. Tapi sebelumnya saya ingin menceritakan pekerjaan saya sebelumnya di ISSDP (Indonesia Sanitation Sector Development Program).

Menjadi freelance consultant memang keinginan saya. Waktu bekerja yang bisa dinegosiasi, bisa bekerja dari rumah,  bisa ‘istirahat’ ketika sedang tidak ingin bekerja dengan tidak memperpanjang kontrak, dan bidang pekerjaan yang substantif. Karena bermain di substansi, saya dituntut untuk terus belajar. Dan saya memang senang sekali ‘belajar’ sambil bekerja. Belajar tapi nggak bayar, malah dibayar. Apalagi ISSDP sangat sesuai dengan latar belakang pendidikan sekaligus minat saya. Walaupun awalnya ditempatkan kurang pas di bagian teknologi.

Memang teknologi sanitasi dekat dengan topik thesis saya. Tapi tetap saja hal-hal yang terlalu kental teknologi dan engineering sulit untuk saya, seorang lulusan S1 Planologi. Sempat menyampaikan ke-tidak-pas-an saya dengan penempatan ini, tapi ternyata pihak manajemen memiliki rencana lain. Mereka melihat keunikan saya, perpaduan antara seorang  urban planner dan seorang environmental engineer. Perpaduan ini sesuai dengan ISSDP yang memang mengintegrasikan sanitasi (dari sisi teknologi salah satunya) ke dalam perencanaan kota. Ke depannya, posisi saya akan bergeser dari seorang konsultan sanitation technology menjadi konsultan urban sanitation planning.

Tapi akhirnya saya mengundurkan diri di awal hamil Farand. Alasan pertama karena kondisi kesehatan saya ketika itu sangat sulit untuk tetap bekerja optimal. Saya sempat dirawat di RS dan selanjutnya harus bedrest karena ancaman keguguran dan hiperemesis. Cerita awal hamil Farand bisa dibaca di sini.

Alasan ke-dua adalah saya ingin beristirahat menikmati kehamilan yang sudah dinanti-nanti setelah melalui masa-masa melelahkan: menyelesaikan thesis yang berat (lulusan Planologi yang melakukan thesis di environmental technnology group), mengurus kepulangan ke Indonesia, memulai pekerjaan baru (sulit pula karena posisi yang kurang pas tadi), mempersiapkan  pernikahan, dan memulai rumah tangga. Semuanya dalam waktu 3 bulan saja. Dalam satu tahun itu saja, saya sudah tiga kali pindahan: student flat di Wageningen -> rumah orang tua di Billy & Moon -> kost di Setiabudi bersama suami -> rumah mertua yang sebelumnya ditinggali kakak ipar di Tebet. Satu tahun yang melelahkan.

Satu tahun di ISSDP seperti internship yang tidak sempat saya lakukan di Belanda. Dulu saya pengeeeen sekali internship di Belanda. Apa boleh buat tidak ada waktu karena kesulitan menyelesaikan thesis. Thesis yang jadwalnya 6 bulan molor menjadi 1 tahun. Karena ISSDP sendiri merupakan program dengan dana hibah dari Belanda  dan  dengan pelaksana perusahaan Belanda, sehingga team leader, supervisor saya, dan beberapa kolega lainnya adalah orang Belanda. Topik pekerjaannya pun seperti aplikasi ilmu yang saya dapatkan ketika kuliah di Wageningen. Kalau internship di Belanda kemungkinan besar tidak dibayar, di ISSDP saya digaji lebih dari cukup.

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah diberi kesempatan, pengalaman, dan teman-teman baik di ISSDP, sebelum akhirnya bekerja di Pemprov DKI Jakarta. Terima kasih saya terutama untuk Bapak Ahmad Syarif Puradimadja yang saya temui pertama kali saat Konferensi Sanitasi di Wageningen dan Cees Keetelaar, atasan terbaik yang pernah saya temui.

2 thoughts on “Saya dan ISSDP

    1. Aku kebetulan aja dulu salah ambil thesis kesasar di technology group. Mbak yussi juga kan ya sekarang, sipil-arsitek? Eh bikin blog juga dong biar rame. Yg multipy udah mati suri juga kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s