Saya dan Pemprov DKI Jakarta

Saya dibesarkan di keluarga yang bependapat “sebaiknya tidak menjadi PNS (pengecualian untuk dosen dan pegawai BUMN)”. Salah satu alasan adalah sulitnya menghindari korupsi. Jangan salah, almarhum kakek saya PNS Pemda. Papa saya juga pensiunan PNS BUMN. Mungkin justru pendapat tersebut mucul dari pengalaman beliau bekerja  sebagai PNS selama kira-kira 30 tahun. Sebelum mengenal Doori, tidak ada di kamus saya mendaftar lowongan PNS di departemen/kementerian atau pemda.

Setelah mengundurkan diri dari ISSDP, beberapa lowongan PNS dibuka. Ada Bappenas, PU, dan Pemprov DKI Jakarta. Suami yang kebetulan berpendapat “gw udah kerja di swasta, lo sebaiknya jadi PNS” menyemangati saya untuk mendaftar lowongan-lowongan tersebut.

Singkat cerita, saya diterima di Pemprov DKI Jakarta. Tidak jadi mendaftar PU dan tidak diterima di Bappenas. Pemprov DKI Jakarta memang pilihan pertama saya dengan alasan:

  • Dibanding  skala perencanaan dan kebijakan tingkat nasional di departemen/kementerian, saya lebih suka perencanaan kota dan infrastruktur yang lebih detil.
  • Saya akan bekerja di Jakarta dan tidak akan sering keluar kota. Karena akan memiliki anak, dinas keluar kota bukan lagi pilihan yang menarik untuk saya.
  • Peran pemda yang lebih besar pasca pemberlakuan otonomi daerah.

Dalam perjalanannya, saya menemui banyak kendala. Terutama di masa awal, karena pengumuman mulai bekerja bertepatan dengan kelahiran Farand. Saya bahkan sempat mengajukan pengunduran diri karena kesulitan mendapatkan cuti melahirkan karena masih CPNS. Waktu baru lahir kan Farand sakit dan saya perlu waktu untuk mencadangkan ASI  di rumah sebelum meninggalkan Farand bekerja. Kalau bukan karena kehendak Allah melalui pertemuan tidak sengaja dengan Teh Anni Maryam (PL ITB 96 DKI) di satu seminar dan melalui arahan Ibu Vera Revina Sari (PL ITB 86 DKI), mungkin saya sudah tidak kembali lagi bekerja di sini.

Bulan ini tepat satu tahun saya mulai bekerja kembali setelah pernah mengajukan pengunduran diri. Banyak hal yang saya syukuri. Salah satunya adalah bekerja dekat rumah. Bekerja di Pemprov DKI Jakarta memiliki kemungkinan besar untuk bekerja dekat rumah, asalkan tinggal di Jakarta dan mau ditempatkan di kantor kelurahan. Hehe, betul kan? Alhamdulillah saya dipindahkan di sebuah unit di bawah Dinas Perindustrian dan Energi. Kantornya 10-15 menit naik ojek dari rumah. Dulu Farand masih menyusui siang hari dan tidak bisa minum susu dari botol dot, jadi saya pulang jam makan siang untuk makan dan menyusui Farand. Saya juga tidak perlu ketemu macet sehingga punya lebih banyak waktu di rumah dengan Farand.

Bukan berarti perasaan ingin selalu di rumah bersama Farand dan perasaan bersalah meninggalkan Farand di rumah tidak pernah muncul. Tapi sampai sekarang, menjadi ibu bekerja masih menjadi pilihan saya. Semoga Allah selalu memberi petunjuk dan kemudahan supaya saya tetap bisa memberikan yang terbaik untuk Doori dan Farand. Amiiinn…

Didampingi dua cahaya. Mbak NURsanti dan Mbak NURasih. Staf UP Kelistrikan Kepulauan Seribu di Hari Ultah KORPRI.

2 thoughts on “Saya dan Pemprov DKI Jakarta

  1. setuju…seharusnya lebih banyak orang idealis dan konseptor yang bekerja di local government….jangan mundur sar…tetep mengabdi segala piihan tentu punya konsekuensi…bekerja di swasta juga gak lepas dari korupsi dan nepotisme…tapi bekerja di pemerintahan punya kesempatan lebih untuk membangun masyarakat…ciaaahhhh……:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s