Farand Sudah Disunat

Mau berbagi pengalaman Farand sunat seminggu yang lalu. Iya, Farand sudah disunat sebelum umurnya genap 2 tahun.

Suatu pagi Farand mengeluhkan ‘burung’nya sakit. Setelah dilihat ternyata sudah merah dan bengkak ujungnya. Melihat penampakan ‘burung’nya dan melihat Farand menolak pakai popok, celana, atau apapun yang menyentuh burungnya, saya bisa membayangkan perihnya. Karena pagi itu hari Minggu dan dokter anak langganan Farand tidak praktek, saya dan Doori membawa Farand ke IGD RSIA langganan kita.

Dari penjelasan dokter umum yang jaga saat itu, Farand mengalami fimosis. Penanganan yang dianjurkan oleh Pak Dokter adalah sunat. Salah satu hasil browsing internet yang saya dapat mengenai fimosis yaitu :

Fimosis adalah penyempitan atau perlengketan kulup  kelamin sehingga kepala kelamin  tidak bisa terbuka sepenuhnya. Fimosis dapat menyebabkan penumpukan smegma (kotoran hasil sekresi kelenjar kulup) di sekitar kepala kelamin. Penumpukan smegma tersebut dapat mendukung penyebaran berbagai bakteri penyebab peradangan.

Keesokan harinya kita ke dokter anak yang biasa menangani Farand. Ternyata diagnosa dan saran tindakannya sama dengan dokter jaga kemarin. Farand diminta tes kultur urin tiga hari setelah obat antibiotiknya habis untuk memastikan sudah tidak infeksi lagi. Sunat hanya bisa dilakukan setelah sudah tidak infeksi lagi. Kita minta Farand dirujuk ke dokter bedah anak yang dikenal baik oleh Bu dokter anak.

Akhirnya saya berkonsultasi dengan dokter bedah anak dan dokter anastesi. Dari beberapa dokter yang saya temui, sunat yang disarankan adalah metode konvensional (bukan laser, dll) dengan bius total (dihirup, bukan disuntik). Waktu sunat sudah dijadwal. Farand diminta puasa sebelum sunat. Dokter bedah anak bilang puasa 3 jam sebelum sunat. Pihak RS bilang  puasa 4 jam sebelum sunat. Aturan dari  dokter anastesi lain lagi:

  • Puasa makanan padat 8 jam sebelum sunat
  • Puasa sufor 6 jam sebelum sunat
  • Puasa ASI 4 jam sebelum sunat
  • Puasa air putih, sirup, teh manis, dan sejenisnya 2 jam sebelum puasa.

Akhirnya yang diikuti adalah aturan dari dokter anastesi. Karena tujuan puasa ini berkaitan dengan pembiusan.  Pada pelaksanaannya, aturan puasa ini agak merepotkan, khususnya untuk Farand. Farand akan disunat jam 14. Berarti dia sudah harus puasa makanan padat sejak jam 6 pagi. Padahal dia biasa bangun dan sarapan setelah jam 6. Membangunkan Farand untuk kemudian sarapan sebelum jam 6 itu sulit sekali. Jadi lah Farand tidak sarapan. Malam hari sebelumnya Farand juga tidak makan malam dengan proper. Ditambah Farand tidak banyak minum sufor dan ASI saya nyaris tidak keluar lagi. Intinya, sebelum sunat asupan Farand kurang sekali. Apalagi kemudian dokter bedah anak terlambat datang. Rencana sunat jam 14 mundur 1,5 jam. Farand sudah cranky tapi lemas menanti waktu sunat.

Tips dari saya untuk yang anak-anaknya mau sunat:

  • Konsultasikan perilaku/pola makan anak dengan dokter bedah dan dokter anastesi, sehingga jadwal sunat dan aturan puasa bisa disesuaikan.
  • Konfirmasi kembali waktu kedatangan dokter dan jadwal sunat sebelum hari H.  Kalau dokter akan datang terlambat,  minta jadwal sunat diundur. Sehingga jadwal puasa bisa disesuaikan dan anak tidak perlu puasa terlalu lama.
  • Minta dikabari kalau memang pada hari H dokter tetap datang terlambat. Pasalnya Farand diminta datang 2 jam sebelum sunat. Jadi jam 12 sudah harus datang di RS. Farand yang jam setengah 12 masih tidur terpaksa saya angkat untuk berangkat ke RS. Ternyata datang jam 12 hanya untuk keperluan administrasi yang selesai kurang dari setengah jam. Daripada menunggu di RS kan lebih baik Farand tidur di rumah. Tanyakan juga ke RS seberapa perlu datang 2 jam sebelumnya.

Selesai sunat dan setelah sadar, Farand menangis hebat. Penjelasan dokter, hal ini umum setelah sadar dari pembiusan.  Bukan karena ‘burung’nya sakit. Tidak berapa lama Farand tenang. Tapi memang rewel semalaman.

Umur Farand memang umur tanggung untuk disunat. Dia belum mengerti ‘disunat’. Di umur menjelang 2 tahun, Farand juga mulai  suka menolak apa yang kita minta. Sebaliknya, melakukan apa yang kita larang. Sehingga tidak kooperatif untuk penyembuhan. Menurut saya, lebih baik disunat ketika masih bayi karena belum banyak bergerak dan masih penurut. Atau ketika sudah besar dan mengerti ‘disunat’. Tapi baiknya disunat waktu masih kecil adalah toleransi/adaptasi terhadap sakit yang lebih tinggi. Kira-kira 3 hari setelah disunat Farand sudah tidak merasa sakit sama sekali. Sejak sunat sampai 3 hari pun Farand tidak pernah mengeluh sakit yang berarti.  Obat pereda nyerinya hanya tempra dengan dosis biasa. Paling rewel dan bilang sakit kalau burungnya tersentuh sesuatu. Oia, celana sunat yang Farand pakai di foto ini bermanfaat sekali melindungi ‘burung’nya. Tips dari saya: beli agak banyak kalau anaknya masih suka ngompol. Apalagi kalau musim hujan cucian tidak bisa sehari kering.

Penampakan ‘burung’ Farand sesaat setelah sunat memang mengerikan. Memar keunguan dan bengkak. Tapi alhamdulillah mengempes dan memar keunguannya pudar sendiri tanpa obat. Memang butuh waktu lama sampai benar-benar kempes dan tidak memar. Saran dari dokter bedah anak  adalah direndam air hangat seminggu setelah sunat supaya darah kering di sekitar bekas jahitan sedikit demi sedikit terkelupas sendiri.  Seminggu lebih setelah Farand sunat, baru saya dan suami bisa berlega hati. Kemarin Farand sudah jalan-jalan ke mall pakai celana biasa. Dia tidak mengeluh sakit dan saya lihat ‘burung’nya baik-baik saja🙂

9 thoughts on “Farand Sudah Disunat

    1. Kalau kata dokter lubang pipisnya Farand memang kecil. Dokter yang lain bilang aku ga bersihin ‘burung’nya Farand dengan benar. Seharusnya sehabis pipis, pas dibersihin, kulit ‘burung’nya Farand ditarik ke belakang.

  1. kasian banget mas Farand harus puasa lama. dan baru tau klo sunat harus bius total. apa karena umurnya jadi harus bius total? sebenernya bisa bius lokal aja?
    buat pengetahuan nih klo punya nanti punya anak cowo…amiiin..hehe…

    1. Karena umurnya ddyah. Kalo udah gede atau masih bayi mungkin ga perlu bius total, cukup bius lokal aja. Amiinn… semoga cepet nambah satu lagi cowok ya, biar lengkap😉

  2. slam knal,mau tnya dik farandnya stelah bius total apa gak mual2 gtu,trus after khitan pas ppis gtu gak sakit yah?..trims

    1. Saya ga tau persis karena farand belum bisa bilang detil apa yg dia rasain. Paling dia rewel aja. Tp kata dokter stlh sadar dari pembiusan biasanya pasien agak mual. Kalo pipis stlh khitan kayaknya farand biasa aja. Nggak ngeluh sakit dan tampangnya ga kesakitan.

      1. Salam kenal mbak…. saya mau tanya, waktu itu farand sunat dimana mbak? dan berapa biayanya? anak saya umur 5 bulan dan sepertinya ada gejala fimosis, karena pernah ada bercak merah di diapers/ clodi nya. dsa-nya menyarankan untuk disunat saja…saya sedang mencari info mengenai tempat sunat untuk bayi… trims sebelumnya mbak…

      2. Di rsia hermina jatinegara. Masalah biaya dan pembayaran wkt itu diurus suami. Saya tanya dia udah lupa. Maaf ya. Tapi bisa ditanyakan langsung ke RS nya via telpon. No telp yg saya dpt dr website rsia hermina jatinegara 021 8191223. Semoga anaknya cpt sembuh yaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s