Saya dan Les Bahasa Belanda

Alhamdulillah… Akhirnya selesai juga les Bahasa Belanda selama tujuh semester di Erasmus Taalcentrum (ETC).

Maluuuu…. mahasiswi abadi di ETC nih. Sudah mulai les tahun 2006. Baru satu semester, saya sudah berhenti karena alhamdulillah mendapat beasiswa untuk sekolah ke Belanda. Di Belanda, saya sempat les Bahasa Belanda di kampus. Tapi hanya sempat dua level pemula. Karena sepi peminat, kelasnya ditutup. Bahasa Belanda saya juga tidak berkembang selama di sana. Karena sibuk urusan kuliah, karena hampir semua orang Belanda bisa Bahasa Inggris, dan karena teman-teman saya kebanyakan international students, saya jarang sekali menggunakan Bahasa Belanda.

Perasaan kangen Bahasa Belanda muncul ketika saya sudah kembali ke Indonesia. Setelah beberapa lama di Indonesia, saya lanjutkan lagi les Bahasa Belanda di ETC. Perjalanan lesnya tidak mulus. Sempat tertunda melahirkan dan mengurus anak. Kalau dulu belum punya anak masih sempat belajar atau nonton film berbahasa Belanda, setelah punya anak hampir tidak pernah. Bisa datang les di hari Sabtu pagi saja sudah syukur. Walaupun Doori mendukung sekali, tetap saja kadang-kadang suka kangen istrinya di sabtu pagi😀 Atau Farand sakit, atau ada acara keluarga, sehingga saya tidak bisa full hadir setiap les. Belajar pun menjelang ujian dan harus ‘kabur’ dari rumah. Belajar di rumah sama saja artinya ‘berantem’ sama Farand. Rebutan buku, rebutan pulpen. Lama-lama dia ambil buku saya sambil bilang : “Tutup aja, ngga boleh, no no no!”, sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya. Kalau belajarnya menunggu Farand tidur, saya nggak kuat mengantuk. Jadilah di hari menjelang ujian terakhir di ETC, saya minta izin Doori untuk belajar di café dekat rumah. Alhamdulillah lulus.

Sebenernya saya dapat hadiah yang sangat indah di saat-saat terakhir les di ETC. Beasiswa summer course tiga minggu di Zeist Belanda. Sayaaaang sekali jadwalnya bentrok dengan jadwal diklat prajab. Sudah berusaha mengundur jadwal diklat prajab, tapi hasilnya nihil. Butuh waktu untuk berlapang dada. Sempat sakit hati dengan sikap beberapa orang yang menurut saya berpikiran sempit dan tidak menghargai prestasi. Tapi saya yakin Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Amiiiinn…..

Mengingat spreken saya buruk sekali, saya masih ingin ikut modul konversasi di ETC. Tapi kasihan Doori dan Farand ditinggal-tinggal les melulu. Jadi keinginan ini ditunda dulu sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Walaupun sudah nggak les lagi, saya akan tetap meluangkan waktu membaca buku dan nonton film berbahasa Belanda. Bukan karena rajin, tapi karena ternyata saya suka Bahasa Belanda. Suka untuk alasan yang sulit dijelaskan. Seperti Liz di Novel Eat Pray Love yang suka Bahasa Italia.

Kelas Mahir I ETC 2011

4 thoughts on “Saya dan Les Bahasa Belanda

  1. Wah, selamat Sar! Kirain Farand ikut ujian juga😉

    Yang ku tahu, beberapa kosakata Bahasa Indonesia diambil dari Bahasa Belanda. Lainnya? Tidak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s