Banjir Jakarta 2013

Ingin ikut berpendapat setelah membaca komentar teman-teman di social media tentang banjir Jakarta. Salah satunya banyak yang berpendapat : makanya buang sampah pada tempatnya.

Menurut saya, anjuran “buanglah sampah pada tempatnya” sangat tepat terkait kebersihan dan ketertiban lingkungan sekitar. Namun anjuran ini masih terbatas pada individu. Yang dimaksud “tempatnya” sebatas “tempat sampah”. Baik itu keranjang sampah dalam rumah, bak sampah di depan rumah, atau tempat-tempat sampah di tempat umum. Sampai di tempat sampah, selesai sudah tanggung jawab individu membuang sampah. Terlepas berapa banyak sampah yang dibuang. Terlepas tempat sampah itu memisahkan antara sampah terurai dan sampah tidak terurai atau tidak. Terlepas apakah setelahnya sampah tersebut dibuang ke TPS, TPA yang tidak layak, atau bahkan ke sungai.

Sudah saatnya anjuran “buanglah sampah pada tempatnya” dimengerti sebagai “kelolalah sampah”. Prinsip 3R, Reduce, Reuse, Recycle sudah sangat baik menurut saya. Tentu saja prinsip ini menjadi tumpul apabila hanya dilakukan secara individual. Menjadi percuma jika setiap individu rumah tangga memilah sampah, namun pengumpulan sampah dilakukan tanpa pemisahan sampah terurai dan sampah tidak terurai. Menjadi percuma apabila sampah yang sudah dipilah di rumah tangga ternyata tidak diolah sesuai jenisnya, melainkan bersatu kembali di TPA. Apalagi jika TPA nya ternyata hanya open dumping. Karena itu tidak hanya secara individual, namun juga secara kolektif oleh masyarakat pada skala yang lebih besar, dan pada akhirnya tetap pemerintah memiliki peran dan tanggung jawab terbesar dalam pengelolaan sampah kota.

Kembali mengenai banjir Jakarta, pengelolaan sampah hanya sebagian masalah. Sebagai seorang lulusan planologi, saya suka mengaitkannya dengan sebagian yang lain, yaitu tata ruang. Di sini saya hanya ingin fokus pada pembangunan pusat perbelanjaan besar yang marak di ibukota.

Banjir besar Jakarta sebelumnya terjadi tahun 2007. Sejak tahun 2007 sampai saat ini, saya perhatikan banyak penambahan pusat perbelanjaan besar. Menurut saya, pembangunan pusat perbelanjaan besar secara signifikan mengurangi daerah resapan. Tapi saya khawatir ia tidak menyalahi peraturan. Ia dibangun di kawasan dengan peruntukan lahan yang sesuai, yaitu kawasan komersial. Ia juga tidak menyalahi peraturan apabila dibangun dengan Koefisien Dasar Bangunan dan kriteria bangunan lainnya sesuai peraturan.

Pusat perbelanjaan juga biasanya dibangun sebagai fasilitas penunjang apartemen di atasnya. Dari perspektif tata ruang, pembangunan apartemen (pembangunan vertikal) adalah hal positif karena mengurangi penggunaan lahan dibanding landed housing (pembangunan horizontal). Sehingga permohonan izin pembangunan pusat perbelanjaan dapat berkedok pembangunan apartemen.  Meskipun pada kenyataannya apartemen mewah tidak mengurangi kepemilikan landed houses. Orang yang memiliki/menyewa apartemen mewah biasanya sudah memiliki lebih dari 1 landed house di lokasi lain.

Saya jadi bertanya-tanya : apakah maraknya pembangunan pusat perbelanjaan besar sesuatu yang salah? Apakah ia berkontribusi signifikan terhadap banjir Jakarta yang semakin besar meskipun dengan curah hujan yang tidak lebih besar dibanding 5 tahun lalu? Atau jangan-jangan cuma saya yang sentimen karena bosan pergi ke mall.

Akhirnya doa saya, supaya banjir segera surut. Terutama para korban diberi kemudahan dalam kesulitan. Semoga pemerintah, melalui program-programnya, lebih siap lagi menghadapi ancaman banjir seperti ini 5 tahun ke depan. Aminnn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s