Taman Sanitasi

Artikel ini saya tulis untuk Millemagz, majalah digital Millemama, edisi April 2013. Sila follow akun twitter @Millemama_INA dan like page FB Millemama untuk mendapat update Millemagz terbaru setiap terbit.

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata sanitasi? Mungkin sama seperti saya: sampah dan air limbah. Menurut WHO (2008), kata sanitasi mengacu pada pemeliharaan kondisi higenis melalui pelayanan-pelayanan seperti pengumpulan sampah dan pembuangan air limbah. Lalu, apa hubungannya sanitasi dengan taman?

Setelah dari jamban, wastafel, dan lubang air kamar mandi, tau dan pedulikah kita kemana air limbah kita pergi?

Mungkin jawaban paling umum adalah ke tangki septik. Meskipun sesungguhnya tangki septik bukan satu-satunya pilihan teknologi pengolahan air limbah rumah tangga. Apalagi untuk permukiman padat, dimana tangki septik membutuhkan lahan seluas 10 m2 untuk bidang resapan, jarak aman kurang lebih 10 meter dengan sumber air minum, dan lebar jalan yang memadai untuk akses penyedot tinja.

Seperti telah umum diketahui, limbah dari tangki septik perlu disedot secara berkala. Dari tangki septik, limbah dibawa oleh truk penyedot tinja menuju Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Dengan pilihan sistem dan teknologi sanitasi  lainnya, misalnya sistem sanitasi off-site dengan perpipaan, air limbah dari rumah langsung dialirkan melalui sistem perpipaan menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Sistem pengelolaan sanitasi dengan IPLT atau IPAL besar yang melayani skala kota atau wilayah seperti ini, dikenal juga dengan sistem sanitasi terpusat. Meskipun sistem sanitasi terpusat berfungsi dengan sangat baik di negara-negara maju, ada peningkatan ketertarikan kepada sistem-sitem alternatif lainnya. Salah satunya adalah sistem sanitasi skala kecil yang dapat melayani sebuah rumah, cluster perumahan, komplek perumahan, atau bagian kota. Banyak penelitian dan proyek sudah berjalan di bidang ini. Berbagai pilihan teknologi saat ini memungkinkan integrasi pengolahan air limbah dengan bangunan atau lingkungan agar tetap serasi dan tidak menimbulkan kesan kotor. Tidak seperti keberadaan IPAL dan IPLT terpusat skala kota yang biasanya mendapat penolakan dari masyarakat. Siapa yang mau rumahnya ada di dekat IPAL atau IPLT?

Pengolahan air limbah skala kecil lebih fleksibel untuk disesuaikan dengan linkungan terbangun jenis apa saja. Ia dapat dibangun di bawah tanah atau memanfaatkan lahan terbengkalai. Sementara pengolahan air limbah skala kota memerlukan lahan yang luas dan wajib menyediakan zona penyangga di sekelilingnya untuk menjaga jarak dengan lingkungan perumahan untuk alasan kesehatan, bau, dan menjaga image perumahan. Sementara zona penyangga seperti ini tidak diperlukan pada pengolahan air limbah skala kecil.

Lihat saja gambar-gambar ini. Siapa menyangka fasilitas pengolahan air limbah dapat dibangun tanpa mengurangi nilai estetika dan tidak perlu lahan tambahan karena dapat menggunakan konsep pemanfaatan ganda. Sebagai contoh, reed bed filter dapat berfungsi sebagai fasilitas pengolahan air limbah sekaligus elemen hijau pada ruang publik. Selain dapat dimanfaatkan sebagai taman bermain anak-anak, taman sanitasi dapat dijadikan sarana edukasi pengelolaan limbah sejak dini kepada anak-anak. Supaya kelak anak-anak tidak menjadi generasi flush and forget. Generasi yang tidak peduli dengan limbahnya sendiri.

Foto-foto diambil dari:

Hasselaar, B., P. d. Graaf, et al. (2006). Integratie van decentrale sanitatie in de gebouwde omgeving. Delft, TU Delft Faculty of Architecture

Pic 2 Purificaiton field de waterspin den haag
Purification field yang juga berfungsi sebagai elemen hijau: De Waterspin, Den Haag, Belanda
Pic 3 purification field Gemeente Enschede
Purification field yang juga berfungsi sebagai elemen hijau: Gemeente Enschede, Belanda
Pic 4 Living Machine Findhorn Foundation
Pengolahan air limbah yang didisain menarik dan estetis : Living Machine, Findhorn Foundation.
Pic 5 Contoh resirkulasi air hujan
Contoh resirkulasi air hujan yang didisain oleh Atelier Dreiseitl: inner court Stuttgart (kiri); courtyard garden Schafbruhl Tubbingen (tengah); Town Hall square Haltersheim (kanan).
Pic 6 Binatu Copenhagen Denmark
Pengolahan air limbah hasil pencucian di sebuah binatu di Copenhagen, Denmark. Binatu tersebut menggunakan kembali air limbahnya yang sudah diolah menjadi air bersih.
Pic 7 Saluran terbuka dengan water playground di EVA-Lanxmeer, Belanda
Saluran terbuka dengan water playground di EVA-Lanxmeer, Belanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s